by

Gejala Difteri dan Penyebabnya

Gejala Difteri dan penyebabnya

1. Apa itu Difteri?

Difteri adalah infeksi bakteri mengerikan yang mengancam nyawa. Bakteri itu umumnya menyerang selaput lendir. Selaput lendir tersebut berada di hidung dan tenggorokan. Ciri khas dari penyakit ini adalah penderita mengalami sakit tenggorokan, demam, pembengkakan kelenjar, dan kelelahan. Akan tetapi, dari semua itu ada satu yang paling khas, yaitu terbentuknya lapisan (membran) tebal berwarna abu-abu yang menutupi saluran pernapasan, yang membuat penderita jadi sulit untuk bernapas.

Difteri merupakan penyakit yang langka di negara maju, seperti Amerika atau sejenisnya. Itu karena vaksin penyakit tersebut sudah terdistribusi dengan baik bahkan hingga ke pelosok.

Namun, berbeda dengan di negara berkembang. Contohnya adalah di negara kita. Dari tahun 2011 hingga 2016, tercatat ada 3353 kasus yang dilaporkan. Itu membuat Indonesia menjadi peringkat 2 dalam “negara dengan kasus difteri terbanyak di dunia”, berada tepat di bawah India. Dan parahnya, 110 dari seluruh penderita tersebut meninggal.

2. Gejala Difteri

Difteri biasanya menunjukkan gejala setelah penderita terjangkit bakteri ini selama 2 sampai 5 hari. Berikut adalah gejala-gejalanya.

– Adanya lapisan (membran) yang menutupi tenggorokan dan amandel.

Gejala Difteri

– Tenggorokan terasa sakit dan serak.

– Pembengkakkan kelenjar pada leher.

– Sulit bernapas atau napas jadi terengah-engah.

– Suara menjadi sengau.

– Demam dan kedinginan.

– Tidak enak badan.

Pada beberapa orang, penderita yang terinfeksi bakteri difteri hanya menunjukkan gejala yang ringan, atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Mereka yang seperti itu dikenal dengan “penyebar difteri”, karena orang-orang tersebut dapat menularkan penyakit ini tanpa dirinya merasa sakit.

Berikutnya adalah gejala lain pada difteri, yaitu difteri yang menyerang kulit. Pada jenis ini kulit akan terasa sakit, ruam, dan bengkak karena bakteri tersebut bekerja sama dengan bakteri lain yang ada pada kulit. Contohnya adalah borok atau bisul yang tertutupi oleh lapisan (membran) abu-abu.

Meski begitu, kita tidak bisa meremehkan penyakit tersebut, mengingat difteri yang menyerang kulit lebih sering muncul di negara tropis. Karena itu kita harus selalu menjaga kebersihan.

Lalu, kapan kita harus pergi ke dokter?

Alangkah baiknya kita langsung pergi ke dokter begitu mengetahui adanya anggota keluarga yang melakukan kontak fisik dengan penderita difteri. Jika kamu tidak yakin keluargamu sudah divaksin, segera lakukan vaksinasi. Pastikan semua orang sudah mendapatkan vaksin.

3. Penyebab Difteri

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Biasanya bakteri tersebut menggandakan diri di dekat permukaan selaput lendir pada tenggorokan. Difteri menular melalui tiga rute:

– Udara. Ketika penderita difteri bersin atau batuk, dia akan mengeluarkan percikan ludah, dan itu mengandung bakteri Corynebacterium. Dengan begitu orang-orang di sekitar akan menghirupnya. Jadi dapat disimpulkan kalau penyakit difteri dapat menular dengan cepat di tempat yang ramai.

– Melalui sentuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Biasanya, orang-orang sesekali tertular difteri setelah menyentuh barang bekas penderita. Contohnya adalah tisu, meminum dari gelas yang sama tanpa dicuci. Selain itu, penularan ini juga bisa dilakukan mulalui barang pribadi yang terkontaminasi. Contohnya adalah lewat handuk atau mainan.

– Terakhir, kamu juga bisa tertular difteri karena bersentuhan dengan luka yang terinfeksi oleh bakteri Corynebacterium. Orang-orang yang menderita difteri tapi tidak segera diberi perawatan, dapat menularkan penyakit tersebut kepada mereka yang belum melakukan imunisasi. Waktunya bervariasi, tapi kebanyakan membutuhkan hingga 6 minggu. Dan seperti yang dibahas tadi, penderita penyakit ini bisa tidak menunjukkan gejala apa pun.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *